Alt text to fill

Apa Itu Periodontitis dan Cara Tepat untuk Mengatasinya

Jika sudah membaca artikel sebelumnya mengenai Gingivitis, maka Anda akan lebih mudah memahami penjelasan mengenai Periodontitis ini. Periodontitis adalah kelanjutan dari penyakit gingivitis yang dibiarkan dan tidak diberikan perawatan maupun pengobatan. Radang gusi ini pada dasarnya merupakan bentuk pertahanan tubuh terhadap bakteri di sekitar gigi, namun jika diabaikan akan berdampak buruk sehingga tingkat kerusakan gusi semakin parah dan dapat menimbulkan abses gigi dan menyebabkan kerusakan tulang penyangga gigi. Bahkan, gigi berpotensi tanggal karena infeksi gusi ini.

Tahapan Terjadinya Periodontitis

Berikut tahapan bagaimana plak menjadi penyebab terjadinya periodontitis berdasarkan tingkat kerusakannya:

 

Gingivitis

Periodontitis diawali dengan radang gusi atau biasa disebut sebagai gingivitis. Radang gusi ini terjadi karena penumpukan plak gigi yang tidak dibersihkan secara teratur. Plak ini sendiri terbentuk dari sisa makanan yang menempel di gigi dan menjadi sarang berkumpulnya bakteri sehingga plak menjadi keras dan menginfeksi gusi.

 

Periodontal Dini

Pada tahap awal ini gusi mulai mengalami penyusutan sehingga terbentuk jarak berupa kantung atau pocket antara gusi dan gigi. Kantung ini menjadi tempat berkumpulnya bakteri dan tentunya berbahaya. Kemungkinan muncul pendarahan bisa terjadi ketika menyikat gigi atau menggunakan benang gigi.

 

Periodontal Sedang

Tahap selanjutnya adalah mulai adanya rasa sakit di sekitar gigi akibat dibiarkannya periodontitis dini. Gusi yang menyusut mengakibatkan gigi mulai kehilangan penyangga tulang dan menjadi longgar.

 

Periodontal Lanjut

Pada tahap lanjut, penderita mungkin mulai mengalami bau mulut dan rasa busuk di mulut. Tidak hanya itu, saat mengunyah pun akan terasa sakit dan tidak nyaman akibat kondisi jaringan ikat yang melonggar dan tidak dapat menahan gigi, dan berpotensi tanggal gigi.

 

Gejala Periodontitis

Keberadaan penyakit gusi biasanya tidak mudah disadari, namun Anda dapat mengenalinya melalui gejala dan tanda berikut:

  • Penumpukan plak dan karang gigi
  • Rasa busuk di mulut dan bau tidak sedap
  • Penyusutan atau penurunan gusi
  • Gusi bengkak dan terasa lunak ketika disentuh, serta rentan berdarah
  • Rasa sakit saat mengunyah
  • Terbentuk rongga antar gigi
  • Gigi mulai goyang, bahkan mulai tanggal

 

Faktor Risiko Periodontitis

Meskipun dapat dialami oleh siapa saja, faktor-faktor di bawah ini dapat meningkatkan risiko terkena periodontitis, di antaranya:

  • Memiliki kebiasaan merokok atau mengunyah tembakau
  • Memiliki riwayat keluarga yang mengalami hal yang sama (genetika)
  • Kurang menjaga kebersihan mulut dan gigi
  • Kekurangan asupan vitamin C
  • Mengidap AIDS, kanker, HIV, dan diabetes
  • Perubahan hormon ketika pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause
  • Usia lanjut

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda memiliki faktor risiko di atas dan mengalami gejala yang sama, dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter gigi. Bagaimanapun, dokter gigi yang dapat melakukan diagnosa dan tahapan berikutnya jika memang terdeteksi periodontitis. Jika masih dalam tahap yang dini, dokter dapat menyarankan untuk melakukan scalling atau pembersihan gigi dari tartar atau karang gigi. Dengan demikian gigi menjadi bersih dari tempat berkembang biaknya bakteri.

 

Namun jika plak gigi sudah menjalar hingga ke akar, maka perlu dilakukan root planing untuk mengurangi dan menghilangkan plak, bakteri, dan hal lain yang bisa menyebabkan peradangan gusi. Untuk tahap yang lebih serius, bisa saja operasi diperlukan, seperti operasi reduksi kantung, regenerasi jaringan, dan cangkok jaringan atau tulang jika memang diperlukan.

 

Seperti yang kita ketahui, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Agar tidak mengalami periodontitis, pastikan Anda menjaga kebersihan dan kesehatan mulut secara rutin dengan rajin menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi Pepsodent Cengkeh dengan kandungan cengkeh dan garam untuk gusi sehat alami. Selain itu, mulai juga kebiasaan untuk menggunakan flossing untuk memastikan tidak ada sisa makanan yang menempel di gigi. Tidak lupa juga untuk secara konsisten berkonsultasi dengan dokter gigi minimal enam bulan sekali.

Bagikan ini